Tanggal Hari Ini : 11 Dec 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Ratijo Harjo Suwarno, Presiden Partai Jamur Indonesia
Jumat, 10 Agustus 2018 07:00 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Namanya Ratijo Hardjo Suwarno. Rambut sudah memutih, usia boleh tua, tetapi semangatnya menyala-nyala jika sudah berbicara tentang jamur. Maklum, Ratijo telah malang melintang puluhan tahun  di kehidupan jamur, dan merasakan pahit getirnya sebagai pembudidaya dan bisnis jamur. 

Dihadapan seribu lebih para petani jamur yang hadir dari berbagai kota, pendiri PT Volva Indonesia ini membagi inspirasi untuk hidup dan berjaya dengan jamur. Tetapi ia buru-buru mengingatkan, hidup bersama jamur bukanlah hal yang mudah. Pehit getir menjadi perjalanan yang tak terlupakan. “Setiap petani jamur bertemu dengan sesama petani jamur, pertanyaan pertama yang sering dilontarkan adalah apakah usaha jamurnya masih ada?,” ujar pemilik Resto Jejamuran di Jogyakarta yang kesohor hingga mancanegara ini mengawali ceritanya.

Petani jamur, menurut Ratijo, rentan dengan kegagalan. Bahkan rentan bangkrut. Pernah ada seorang yang akan memasuki masa pensiun datang kepadanya. Ia mengungkapkan keinginannya untuk belajar tentang budidaya jamur, pengolahan dan pengembangan bisnisnya. Menurutnya, calon pensiunan ini menyatakan sudah menyiapkan dana, dan juga lahan. Ratijo kemudian bertanya kepadanya, apakah sudah siap bangkrut? Calon pensiunan itu tidak pernah datang lagi kepadanya.

Kisah sukses Ratijo membangun Resto Jejamuran juga berawal dari melimpahnya produk jamur hasil budidayanya. Ceritanya, sejak tahun 1968 hingga tahun 1997, Ratijo sudah bekerja sebagai pimpinan produksi hingga pimpinan perusahaan di perusahaan budidaya jamur.

Ratijo Harjo Suwarno, Presiden Partai Jamur Indonesia, Jejamuran

Tahun 1997 saat krisis ekonomi, ia memutuskan mengundurkan diri sebagai professional diperusahaan orang, dan memilih mendirikan usahanya sendiri di Jogyakarta yang diberi nama PT. Volva Indonesia. Perusahaan ini awalnya bergerak di bidang usaha pembibitan jamur, namun dalam dalam perjalanannya perusahaan ini turut juga memberdayakan para petani disekitarnya untuk ikut becocok tanam jamur.

Hasil produksi budidaya jamur dari para petani tersebut kemudian dibelinya, dengan maksud untuk dijual kembali. Namun sa yangnya harga jamur sering jatuh, sementara masa simpan jamur budidaya segar sangat terbatas waktunya. Tidak jarang ia harus menanggung rugi.

Tahun 2003 timbul inisitiatifnya untuk menjual olahan makanan dari jamur. Tapi itu bukanlah hal yang mudah. Olahan makanan dari jamur saat itu masih sangat langka dan belum banyak dikenal orang. Sebagian masyarakat bahkan masih menganggap jika makanan olahan jamur beracun sehingga harus dijauhi.

Ratijo Harjo Suwarno, Presiden Partai Jamur Indonesia, Jejamuran

“Jejamuran” berawal dari melimpahnya  produk jamur  hasil budidayanya.


Namun tekad Ratijo untuk memperkenalkan makanan olahan jamur tidak berhenti dengan nyinyiran ini. Bersama istrinya, Indaryati ia memperkenalkan makanan olahan jamur dari rumah ke rumah. Ia menjelaskan begitu sehat dan bergizinya olahan jamur sebagai bahan pangan. Olahan makanan yang dibuat antara lain gudeg jamur, sate jamur, lodeh jamur, tongseng jamur, dan sate jamur.

Tahun-tahun pertama belum banyak orang yang tertarik dan menyukainya. Namun Ratijo dan istri tidak patah arang. Ia terus menawarkan kepada semua orang, dan menerangkannya sendiri kepada konsumennya. Hingga akhirnya ia mendirikan kedai kecil di depan rumahnya, yang berisi etalase dan beberapa kursi untuk tempat duduk menyantap bagi para pelangganya.

Upaya Ratijo membuat olahan pangan dari jamur ini rupanya banyak diminati pelanggan disekitarnya. Selain karena harganya lebih murah, karena daging saat itu sedang mahal-mahalnya, kandungan gizi makanan olahan jamur yang dibuatnya dipercaya lebih sehat. Liputan media lokal yang mengekspos warung kecil yang menyediakan aneka makanan olahan jamur membuat warung ini makin dikenal. Pembeli yang datang bukan saja berasal dari dari daerah sekitar, tetapi kini datang dari berbagai daerah lainnya yang cukup jauh, bahkan dari luar kota. Hingga akhirnya pelanggan yang datang sudah tak tertampung lagi di kedai kecil yang selama ini ada.

Tahun 2009 warungnya diperluas menjadi sebuah restoran sederhana yang diberi nama “Jejamuran”. Meski disekelilingnya banyak berdiri resto-resto dengan menu tradisional dan modern yang menyediakan menu-menu umum, Ratijo tetap konsisten dengan hanya menyediakan menu makanan olahan berbasis jamur. Resto Jejamuran dan menu-menunya awalnya diperuntukkan sebagai alternative bagi masyarakat yang tidak mengkonsumsi daging, namun strategi itu diubah seiring dengan pemahaman masyarakat tentang makanan sehat, dan jamur adalah salah satu sumber makanan yang sangat dianjurkan dikonsumsi karena bergizi tinggi. Momentum inilah yang membuat sate jamur, pepes jamur, mie jamur, jamur crispy, dan makanan olahan lainnya dari jamur kian digemari pelanggan.

Ratijo Harjo Suwarno, Presiden Partai Jamur Indonesia, Jejamuran

makanan hasil olahan dari jamur dari Resti Jejamuran yang kian diminati oleh masyarakat baik masyarakat lokal maupun manca negara. Masyarakat semakin mengerti bahwa jamur banyak mengandung gizi dan menyehatkan. Tren pengunjung Jejamuran terus meningkat, hal ini menandakan kesadaran amsyarakat untuk mengkonsumsi jamur dan produk olehannya juga semakin besar.


 Tahun 2012, Jejamuran merupakan salah satu resto di Jogyakarta yang cukup banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Konsumen dari berbagai daerah di Indonesia juga berduyun-duyun datang. Wisatawan dari Amerika Serikat, Malaysia, Brunei Darussalam, Filiphina, Myanmar, dan negara lainnya seperti ketagihan mengkonsumsi makanan olahan jamur ini.

Resto Jejamuran yang semula oleh Ratijo dibuat sebagai kanal penyelamat dari melimpahnya produksi jamur yang dihasilkan, kini malah menyerap hampir sebagian besar produksinya. Bahkan ia masih meminta sebagian jamur dari petani lain untuk mensuplynya.

Kepada petani jamur lainnya ia mengingatkan, kendala produksi jamur adalah soal harga. Petani, menurut Ratijo tidak memiliki kekuatan menentukan harga jika hanya menjual jamur mentah. “Petani tak punya daya tawar, karena semua ditentukan oleh pengepul, terlebih jamur tak bisa disimpan” ujarnya.

Agar konsumsi jamur masyarakat meningkat, dan harga jamur mentah membaik, yang sangat berarti bagi para petani jamur, Ratijo berniat mendirikan ‘Partai Jamur”. Tentu ini hanya seloroh agar petani jamur tetap dapat tersenyum. n

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari