Tanggal Hari Ini : 11 Dec 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Menghidupkan Kembali Denyut Nadi Ekonomi Rakyat
Jumat, 10 Agustus 2018 04:06 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Ekonomi rakyat dan usaha kecil kini sedang menghadapi tantangan yang tidak kecil. Benturan kepentingan dan persaingan usaha setidaknya sudah mulai terbaca, semisal persaingan langsung antara toko kelontong yang dimiliki oleh pengusaha kecil dengan industri modern retail market yang didukung oleh pemilik modal besar.

Drama banyaknya toko kelontong yang terpaksa gulung tikar dalam lima tahun terakhir ini bukan saja terjadi di pasar-pasar tradisional, tetapi juga di jalan-jalan lingkungan, bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga di wilayah pinggiran.

Fenomena banyaknya gerai toko kelontong ‘yang tutup’ ini telah menimbulkan kekhawatiran, namun sebagian pengamat justru menyalahkan keberadaan toko kelontong yang tidak mengupdate penampilannya.

Namun sebagian yang lain, khususnya pemerintah daerah ada yang peduli dengan usaha kecil dan mencoba mengerem laju keberadaan modern retail market agar tak menggerus toko-toko kelontong yang selama ini telah ada, dengan membuat aturan yang memberikan lingkungan usaha yang subur dan kondusif bagi berkembangnya usaha-usaha kecil yang dikelola warga.

Bisnis modern retail market, selain strategis juga potensial. Strategis karena menjadi bagian garda depan dari produk-produk industry dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Potensial karena peluang untuk menguasai pasar terbuka sangat lebar. Terlebih jika modern retail market dilengkapi juga dengan berbagai konsep dan fasilitas yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat, seperti mesin anjungan tunai dari berbagai bank untuk berbagai keperluan.

Keberadaan modern retail market yang didukung oleh system kapitalistik besar, yang didisain sangat nyaman dan lengkap dapat memalingkan masyarakat yang biasa berbelanja di pasar tradisional maupun warung dan toko kelontong. Terlebih modern retail market juga secara berkala melakukan promosi, baik dengan cara bundling harga maupun dumping, meskipun hal ini seringkali dibantahnya.

Menghidupkan Kembali Denyut Nadi Ekonomi Rakyat

pemerintah daerah ada yang peduli dengan usaha kecil dan mencoba me ngerem laju keberadaan modern retail market agar tak menggerus toko-toko kelontong yang selama ini telah ada.


 

Modern retail market yang tersebar di berbagai wilayah, disisi lain juga dapat meningkatkan pertumbuhan kawasan, meningkatkan investasi, menumbuhkan semangat persaingan dan bekerja keras, namun disisi lain keberadaannya dapat mematikan usaha kecil di lingkungannya.

Perpres No. 112/2007 Pasal 1 Ayat 12 sebenarnya telah mengatur tentang zonasi dan keberadaan modern retail marketan agar keberadaannya tetap dapat diterima oleh masyarakat namun tidak mengganggu segmen usaha kecil yang dimiliki oleh masyarakat. Perpres tersebut telah mengatur jarak modern retail market/minimarket minimal 1 (satu) km dengan pedagang kios kecil atau tradisional. Namun pada kenyataannya, saat ini kita dapat menemukan minimarket yang bersebelahan dengan kios ataupun pasar tradisional.

Berdasarkan kajian Ani Nur Fadhilah (2011), yang membahas tentang “Dampak Minimarket Terhadap Pasar Tradisional (Studi Kasus Di Ngaliyan)”, seperti yang dimuat di laman http://lasboi.blogspot.com, menyimpulkan bahwa: Keberadaan pasar modern (Hypermarket, Supermarket, dan Minimarket) disekitar pasar Ngaliyan memberikan dampak negatif. Terutama para pedagang yang barang dagangannya disediakan juga di pasar modern seperti kebutuhan pokok sehari-hari, makanan ringan, dan roti. Ini juga dikarenakan ruang bersaing pasar tradisional Ngaliyan mulai terbatas dengan adanya beberapa pasar modern yang berdiri di sekitarnya. Selain itu Pasar tradisional Ngaliyan tidak mampu bersaing harga dengan pasar modern disekitar karena rantai distribusi produk yang sangat panjang dibandingkan dengan pasar modern sehingga dalam membuat harga sedikit lebih mahal dibandingkan dengan harga pasar modern.

Nahdliyul Izza yang menbahas tentang “Pengaruh Pasar Modern Terhadap Pedagang Pasar Tradisional (Studi Pengaruh Ambarukmo plaza Terhadap Perekonomian Pedagang Pasar desa Catur Tunggal nologaten Depok sleman Yogyakarta)”, dalam penelitian ini penulis menyimpulkan bahwasanya pengaruh yang ditimbulkan pasar modern (Ambarukmo Plaza) bagi para Pedagang Pasar Desa Catur Tunggal dalam hal ini pendapatan berfariasi, terdapat kelompok yang menanggapi positif, negatif dan biasa-biasa saja.

Walaupun dilihat dari struktur bangunanya pasar tradisional masih kalah bersaing dari pasar modern (Ambaruko plaza) dan dominasi yang dilakukan Ambarukmo Plaza sangat hebat, salah satunya pasar modern setiap bulannya melakukan diskon besar besaran, adaya pelayanan yang baik dan tidak hanya itu pamphlet juga turut andil dalam mencari atau menarik konsumen tetapi ini tidak membuat pedagang di pasar tradisional gulung tikar dibuktikan sampai sekarang tetap berkembang.

Ahmad Reza Safitri Dalam penelitianya Ia membahas tentang “Dampak Retail Modern Terhadap Kesejahteraan Pedagang pasar Tradisional Ciputat Tangerang Selatan”. Adapun hasil dari Penelitianya, Ia menyebutkan bahwasanya keberadaan retail modern merupakan salah satu dampak dari turunnya jumlah pendapatan dan kondisi kesejahteraan pedagang di pasar Ciputat.

Oleh sejumlah pengamat, omzet toko kelontong dan usaha-usaha kecil dengan lahirnya modern retail market/minimarket disekelilingnya bisa turun hingga mencapai 70% dari omzet semula

Di masa-masa mendatang kita berharap kepada para pemangku kebijakan agar memperhatikan dan memberikan perlindungan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil, para pemilik usaha rumahan/toko kelontong dan meningkatkan kemampuannya mengembangkan usahanya agar tetap dapat menyediakan lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan bagi keluarganya.

Perhatian dan keberpihakan kita dapat menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi rakyat.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari