Tanggal Hari Ini : 18 Oct 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Ekonomi Kerakyatan Geliat Ditengah Ekonomi Kapitalistik
Jumat, 10 Agustus 2018 03:50 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Kegiatan usaha masyarakat Indonesia sebagian besar masih berskala mikro dan kecil. Kegiatan ini menjadi tumpuan dan harapan bagi jutaan orang untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup sehari-hari. Begitu banyaknya aktifitas usaha mikro yang digeluti oleh rakyat, dan berdekatan dan bersentuhan dengan keseharian kehidupan masyarakat, maka sebagian para pakar ekonomi menyebut kegiatan ekonomi Indonesia sebagian besar masih diwarnai oleh aktifitas ‘ekonomi kerakyatan’.

Data yang dilansir sejumlah media, terungkap, tahun 2017 lalu jumlah pengusaha di Indonesia diperkirakan ada sebanyak 57 juta unit usaha. Sebanyak 98 persennya adalah usaha berskala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).Biro Pusat Statistik Indonesia mendefinisikan usaha mikro sebagai kegiatan usaha yang pendapatan setahun kurang dari Rp300 juta, sedangkan pendapatan usaha kecil dalam setahun mencapai Rp300 juta - Rp 2,5 miliar, dan disebut usaha menengah jika pendapatannya lebih dari Rp2,5 miliar – Rp10 miliar per tahun.

Sejumlah pakar ekonomi mikro, seperti yang dikemukakan Dr Krisna Wijaya, besarnya jumlah UMKM di Indonesia menandakan bahwa UMKM sangat besar dan strategis karena jumlahnya hampir mencapai sepertiga populasi penduduk Indonesia.

“Jika ‘sentuhan’ terhadap mereka dilakukan, maka akan memberikan warna terhadap sistem perekonomian nasional karena ada kegiatan produksi yang dilakukan oleh pengusaha UMKM. Ada kebutuhan bahan baku, ada proses produksi yang melibatkan banyak tenaga kerja, dan ada produk yang dijual, yang berarti melibatkan banyak sektor pemasaran dan jasa,” ungkapnya.

Ekonomi Kerakyatan Geliat Ditengah Ekonomi Kapitalistik

sentuhan’ terhadap mereka akan memberikan warna terhadap sistem perekonomian nasional 


Maka, lanjut Krisna, kegiatan ini akan memicu terjadinya perputaran usaha yang memberikan stimulan terhadap perekonomian rakyat, tanpa harus mendefinisikan apakah kegiatan ekonomi yang melibatkan begitu banyak aktifitas itu disebut ekonomi kerakyatan atau bukan.

Meski jumlah usaha UMKM Indonesia terus meningkat setiap tahun, namun pendapatan perkapitanya masih rendah. Dibandingkan dengan pendapatan per kapita dari negara-negara lain, pendapatan perkapita Indonesia termasuk terpuruk. Angka pendapatan per kapita merupakan ukuran paling sederhana yang dapat merepresentasikan tingkat kesejahteraan sebuah negara. International Monetary Fund dalam laporannya yang dirilis akhir tahun 2017 lalu menyebutkan pendapatan perkapita Indonesia per Oktober 2017 berkisar sebesar US$13.120.

Pendapatan per kapita itu dinilai berdasarkan paritas daya beli. Paritas daya beli digunakan untuk menentukan produktivitas ekonomi dan standar hidup di antara negara-negara di seluruh dunia dalam periode waktu tertentu. Bandingkan dengan negara tetangga yang disekitar Indonesia. Singapura pendapatan perkapitanya US$93.680, Brunei Darussalam US$77.700, Malaysia, US$30.430, Thailand US$18.730, Indonesia US$13.120, Philipina US$8.780, Laos US$7.910.

Bandingkan dengan Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam, sementara Indonesia adalah negara yang memiliki sumberdaya alam dan manusia yang besar .

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari