Tanggal Hari Ini : 11 Dec 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Bagi Pengusaha Mikro, Perhatian Saja Tidak Cukup
Senin, 12 Maret 2018 03:54 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Jutaan pengusaha mikro dan kecil yang ada di pinggir-pinggir jalan, di pasar-pasar tradisional, di terminal-terminal, di pusat-pusat keramaian, di pinggiran mall dan pusat perdagangan, bahkan yang berada di gang-gang sempit  adalah keniscayaan dan nyata keberadaannya di negeri ini.

Jumlah Mereka sangat banyak, dan meluas keberadaannya hingga ke seluruh negeri. Mereka menjadi dambaan bagi jutaan orang yang mencari hidup, serta menjadi tumpuan nafkah dan tulang punggung ekonomi keluarga di rumah.
Sedikitnya lapangan kerja yang dapat disediakan oleh sektor industri dan jasa yang ada di negeri ini, menjadikan setiap orang harus berfikir untuk dapat membuka lapangan kerja sendiri.
Namun tidak semua orang mampu menciptakan dan mengembangkan usaha sendiri tanpa adanya dukungan modal yang memadai.
Sukinah (55) seorang pedagang sayur mayur di sebuah pasar tradisional di Jakarta Selatan yang masih becek ini. Ia perlu modal untuk membayar ke ‘bos’ yang mensuplay sayur mayur dari pedagang besar Pasar Induk, Kramat Jati. Saat jatuh tempo itulah tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan modal selain berhutang kepada pengelola koperasi-koperasi yang biasanya disebut Kosipa (Koperasi Simpan Pinjam) atau mereka juga sering menyebutnya Bank Keliling.
Fenomena serupa juga banyak terjadi bagi para penjual kue basah di Kawasan Senen, Jakarta Pusat. Fatimah (33) pengusaha kue, juga pelanggan setia jasa bank keliling ini.

Kredit Mikro dan Kecil di Gedung-Gedung Bertingkat, Bagi Pengusaha Mikro, Perhatian Saja Tidak Cukup

Lembaga keuangan informal yang beroperasi dini hari hingga pagi hari ini bisa berbentuk usaha perorangan maupun usaha koperasi, namun sebagian besar merupakan usaha partikelir non formal.
Bagi Fatimah kehadiran bank keliling ini sangat membantunya. Meskipun jika dihitung-hitung dari setiap pinjaman bunganya cukup besar. Contohnya, jika ia meminjam Rp5juta dengan masa pengembalian selama 25 hari (25 cicilan) maka setiap hari Sukinah harus membayar cicilan sebesar Rp212.000 per hari atau jika ditotal nilai bunganya sebesar 6% selama sebulan ditambah dengan jasa profisi sebesar 1,5%, sehingga total bunga yang menjadi beban bisa mencapai 7,5% per bulan.
Baik Sukinah maupun Fatimah masih beruntung mendapatkan kepercayaan dari bank keliling seperti ini karena hampir tidak ada agunan berbentuk apapun yang jadi pegangan bank keliling. Pinjaman diberikan karena hanya saling percaya antara peminjam dengan pemilik uang. Skim pengembaliannya juga bervariasi, ada yang masa pengembaliannya 25 hari (25 bayar cicilan), 2 bulan (40 bayar cicilan), 2 bulan (50 bayar cicilan), dengan masing-masing pengembalian pokok dan cicilan sebesar Rp140 ribu untuk sebanyak 40 cicilan, dan sebesar Rp112 ribu untuk sebanyak 50 cicilan.
Ada aturan tidak tertulis yang berlaku dalam bisnis ini. Peminjam harus membayar cicilan setiap hari tanpa terkecuali. Namun jika tidak berdagang kelonggaran bisa diberikan namun akan mengurangi kepercayaan pemberi pinjaman untuk memberikan uangnya lagi.
Model lain dari kredit dari bank keliling ini adalah jika pinjam sebesar Rp5juta, maka cicilannya yang harus dilakukan adalah sebesar Rp150 ribu selama 40 kali angsuran selama 40 hari. Cicilan tidak boleh terputus, karena jika terputus atau menunggak sehari saja maka reputasi peminjam akan diumumkan seantero pasar.
Skim yang kedua, meminjam sebesar Rp100 ribu, maka peminjam hanya memperoleh uang sebesar Rp90ribu, yang Rp5ribu merupakan uang administrasi, sedangkan yang Rp5ribu lainnya merupakan uang tabungan yang dikembalikan jika pinjamannya lunas. Uang pinjaman tersebut harus dicicil selama 23 hari kerja dengan besarnya cicilan sebesar Rp5 ribu per hari.
Bank Keliling ini bisa saja memberikan pinjaman lebih banyak dari rata-rata (Rp1-5juta), misalnya Rp20 juta hingga Rp30 juta namun dengan syarat lebih ketat, dan diberikan hanya kepada orang yang benar-benar telah dikenalnya, dan telah bertahun-tahun berjualan dan lokasi pasar. Ia tidak akan pernah memberikan pinjaman kepada orang baru, apalagi pedagang pindahan. Selain itu mereka juga datang ke rumah calon peminjam tanpa sepengetahuan para calon peminjam.

Kredit Mikro dan Kecil di Gedung-Gedung Bertingkat
Kredit yang dinikmati para pebisnis gurem dan pebisnis mikro saat ini sebenarnya sangat memberatkan. Pemerintah telah berupaya membantu memberikan kredit modal bagi pengusaha mikro dan kecil. Akhir November 2017 lalu jumlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan kepada pengusaha mikro dan kecil mencapai 87 triliun, dari target penyaluran KUR tahun 2017 sebesar Rp106,6 triliun.
KUR adalah kredit bagi pengusaha mikro dan kecil dengan bunga ringan, yang diberikan tanpa agunan, dan penyalurannya dilakukan oleh beberapa nasional antara lain Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah).
Bagi pengusaha-pengusaha mikro seperti Fatimah dan Sukinah, KUR mungkin belum pernah menyentuh dirinya. Terlebih ia adalah jenis pengusaha ‘kalong’ yang beroperasi malam hingga pagi hari.
Mereka juga tak mungkin ditemui petugas bank karena setiap hari berada di lapangan.
Selain itu mereka pasti juga tidak memiliki laporan keuangan, tidak memiliki agunan, dan bahkan tak cakap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan petugas bank.
Mereka butuh yang simple, mudah dan memang ada kepedulian bagi kelangsungan kehidupannya. Tanpa itu, “bank keliling” tetap jadi pilihannya. Entah sampai kapan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari