Tanggal Hari Ini : 24 Jun 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Gerai Mikro, Omzet Jutaan
Senin, 12 Maret 2018 03:07 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Jangan melihat gerainya, lihatlah omzetnya. Ini cara terbaik untuk mengetahui pebisnis mikro. Lapak-lapak kerupuk di pasar, penjual kue, atau pedagang bakso dan bubur ayam di sekitar lingkungan anda omzetnya jutaan per hari. Karena itu jangan anggap remeh bisnis mikro yang sebagian besar masih berjualan ala kaki lima atau gerobakan. 

Pedagang bubur Ayam Palapa yang setiap hari berjualan di dekat Lapangan Palapa Pasar Minggu, Jakarta Selatan pembeli silih berganti berdatangan. Rata-rata pembeli selalu minta dibungkuskan untuk anggota keluarganya.
“Mau yang lengkap atau biasa”, itulah respon pertama dari karyawan yang melayani pemesan bubur. Sepertinya para pelanggan sudah biasa sarapan bubur di situ. Kursi yang disediakan yang ditata berderet menghadap meja panjang dengan view lapangan sepak bola di Kawasan Kompleks Perumahan, Palapa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan merupakan penataan khas pedagang PKL, tidak pernah kosong, kursi yang diduduki pun antri.
“Kami biasanya melayani pembeli antara 500 sampai 600 porsi setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu bisa 800-1000 porsi ” ujar Sholihin, pengelola Bubur Ayam Palapa yang kami wawancarai.
Dengan harga rata-rata Rp14 ribu plus lauk sate dan minumannya berarti setiap hari rata-rata omset bubur ayam tersebut mencapai Rp6-7 juta per 4 jam, yaitu berjualan mulai dari jam 6 hingga jam 9 pagi. Anggaplah persiapan pembuatan bubur juga dihitung selama 4 jam juga, artinya total jam kerja pedagang bubur tersebut adalah 8 jam.
Hampir sama seperti penjual bubur ayam yang laris, bisnis makanan yang tak kalah ‘gurihnya’ adalah bisnis bakso. Jenis makanan ini tak kalah banyak pengemarnya dengan produk kuliner lainnya.

Seperti yang di jumpai oleh tim WK, Bakso Rahayu, Komplek Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan setiap hari hanya buka dari jam 16.00 sampai jam 21.00, artinya maksimal jam bukanya hanya 5 jam saja setiap hari, namun memiliki omzet yang luar biasa. Setiap hari pemilik usaha usaha tersebut mampu menghabiskan 500 porsi bakso. Apabila harga bakso Rp15 ribu per porsi plus teh botol Rp5000 sebagai teman minumnya, maka omset setiap harinya mencapai tak kurang dari Rp7 juta lebih. 

Dalam menjalankan usahanya pun tidak memerlukan pegawai yang banyak, cukup sang pemilik di bantu istrinya. Dari hasil usaha bakso tersebut ia mampu membiayai anaknya untuk kuliah, mobil dan memiliki rumah mewah.
Cerita serupa juga dikisahkan Muhammad Iqbal Satrio Utama dan istrinya Intan Fransiska. Suami istri asal Depok, Jawa Barat ini sejak tahun 2008 lalu membuat usaha produk aneka risoles dan aneka kue basah.
Awal usahanya, menurut Intan hanya coba-coba saja. Ia suka membuat camilan untuk anaknya. Ia kemudian mencoba menjual di sekolah dan ternyata banyak peminatnya. Setelah beberapa bulan membuat kue risoles dari rumah, Fransiska ingin mencoba ‘berperang di arena yang lebih luas pasarnya’. Ia menyewa lapak kaki lima di Kawasan Kue Subuh Blok M, Jakarta Selatan. Dan dari tempat sederhana inilah bisnisnya mulai ‘bercerita’.

Gerai Mikro, Omzet Jutaan, tips usaha kecil menengah, strategi berbisnis kecil, umkm

Kawasan Kue Subuh, Blok M, Jakarta Selatan ini merupakan sentra grosir kue-kue basah terbesar di Jakarta. Suaminya yang setahun lalu bekerja sebagai karyawan di sebuah kantor elit di kawasan Sudirman diajaknya serta untuk membantunya. Empat orang karyawan masih kuwalahan untuk membantunya.
Agar dapat lebih efisien bekerja di lapak, Intan membuat adonan kuenya di rumah. Di Pasar Subuh Blok M tersebut ia tinggal menggoreng dan memajang produknya dan siap diserbu oleh para pemilik toko kue, pemilik catering dan kios-kios kue yang menjadi pelanggan tetapnya.
“Saya biasa membawa 3000 – 6000 kue setiap hari. Harganya bervariasi dari harga Rp1500, Rp3000 hingga Rp5000 per buah,” ujarnya.
Setiap hari omzet usaha Intan yang berada di Lapak tersebut tak kurang dari Rp5-10juta perhari. Bahkan omzet tersebut belum termasuk pesanan langsung yang datang ke rumahnya. Sebagian besar pemesan langsung adalah pemilik toko kue, dan memberi merek sendiri dari kue yang dipesannya.
“Mereka pesan ke kami, tetapi menggunakan merek mereka sendiri. Bagi saya tidak apa-apa, mereka memang memiliki jaringan distribusi sementara saya tidak, dan menurut saya hal itu adalah bentuk kerjasama yang saling menguntungkan,” ujar Intan.
Untuk membedakan kue buatannya dengan produk lainnya, Intan lebih menekankan kualitas produk dengan harga yang terjangkau, terutama kualitas mayones dan bahan-bahan yang digunakan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari