Tanggal Hari Ini : 11 Dec 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kisah Cerita Dari Sepotong Batik Lasem
Senin, 12 Maret 2018 02:35 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Lasem adalah sepenggal wilayah di pesisir utara Pulau Jawa. Masuk dalam wilayah  Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di Babagan, rumah-rumah bercorak Tiongkok masih menyisakan aktifitas yang kini kian jarang ditemui, membatik.

Bagi pembatik Lasem, kegiatan nglengkreng (proses menutup pola menggunakan malam), nerusi (menutup pola menggunakan malam di sisi dalam pola), ngelir (pemberian warna pertama), nembok (memblok motif menggunakan malam), nglorot (memasak kain agar malam luruh sehingga motif batik mulai terlihat), juga menjemur kain batik yang sudah jadi dan siap jual adalah ritme kehidupan yang kini mulai menggeliat lagi.
Adalah Bi Nang Un bersama istrinya Na Li Ni, dalam buku Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka (1479 M), yang mengungkap sejarah panjang batik lasem. Saat Laksamana Cheng Ho tahun 1413 melakukan muhibah ke Nusantara.
Bi Nang Un bersama istrinya Na Li Ni yang menjadi salah satu awak kapal yang memilih tinggal di Babagan lantaran terpesona keindahan alam Jawa. Dari keduanya, warga Lasem belajar batik dengan motif yang dikembangkan. “Motif batik Lasem dipengaruhi kebudayaan Persia dan Tiongkok, karena dulu Lasem menjadi tempat singgah kapal dari kedua negara tersebut.

Kisah Cerita Dari Sepotong Batik Lasem, batik lasem, motif batik lasem

Motif batik Lasem sebagian besar berbentuk binatang, ada juga motif motif burung hong, naga, kupu kupu yang merupakan lambang cinta kasih, kelelawar yang menjadi simbol banyak rejeki, rusa yang melambangkan martabat, serta kura kura simbol panjang umur.
Dalam perkembangannya, motif batik Lasem semakin kaya. Untuk menunjukkan kedaerahan, batik Lasem memiliki tiga motif khas. Yakni, motif latohan, sekarjagad, dan kricakan.
Latohan merupakan buah atau tanaman menyerupai rumput laut yang biasanya dimasak penduduk Lasem sebagai urap. Motif latohan sendiri berupa serangkaian buah berbentuk agak lonjong. Sementara Kricakan atau watu pecah, terinspirasi dari pengerjaan jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 Km atau yang dikenal sebagai proyek Daendels. Di proyek tersebut, kaum muda di Lasem diperintahkan menjadi pekerja penyedia batu pecahana. Namun, banyak dari pekerja itu yang meninggal lantaran wabah malaria. Sementara Sekarjagad, merupakan motif berbagai bentuk bunga yang berserakan tidak beraturan.
Motif-motif batik Lasem kini banyak dijumpai sebagai bahan busana yang cerah dan dinamis. Bahkan anak-anak muda Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan mulai memahami dan menjadikan batik Lasem sebagai busana berkelas dan penuh kebanggaan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari