Tanggal Hari Ini : 11 Dec 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Pengalaman Berwirausaha Pertanian, Tumpangsari Cabe Rawit dan Pepaya California
Selasa, 24 Mei 2016 09:10 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Pepaya California mudah dibudidayakan karena mudah tumbuh di daerah manapun, dan mudah merawatnya. Pepaya California dapat berbuah sepanjang musim baik musim hujan maupun musim kemarau. Harga buah papaya secara umum stabil, dan terus banyak peminatnya sepanjang tahun. Harga Pepa ya California di pasaran petani berkisar Rp2000-Rp3000/kg, dan yang paling penting permintaan masyarakat tak pernah turun terhadap buah Pepaya California, berapapun jumlahnya. Namun bagi petani yang ingin meningkatkan pendapatan usaha, dapat melakukan tumpangsari budidaya Pepaya California dengan usaha budidaya Cabe Rawit. Cabe rawi adalah produk hortikultura yang harganya fluktuatif, saat-saat tertentu harga di pasaran dapat melejit harganya mencapai Rp100.000/kg, namun bisa juga jatuh ke harga Rp5000/kg.
Budidaya Cabe Rawit sebenarnya relative mudah penanamannya, dengan siklus hidup produktif efektif selama 2-3 tahun. Cabe rawit juga tetap bisa produksi meski hanya mendapatkan sinar matahari cuma 50 % saja, jadi jika kita menanamnya di bawah pohon Pepaya yang sinar mataharinya tidak maksimalpun, kurang dari 100 persen, maka kita akan tetap dapat memetik hasil buah cabe rawit dengan optimal.Selain itu cabe rawit lebih tahan penyakit di bandingkan dengan jenis tanaman lainnya.
Tumpang sari adalah salah satu solusi bagi petani untuk tetap mempunyai penghasilan selagi menunggu tanaman utama (Pepaya) panen. Bayangkan jika kita sebagai petani harus puasa selama minimal 7 bulan untuk menunggu hasil panennya buah Pepaya, darimana kita mempunyai pemasukan selama waktu menunggu tersebut.
Selain jenuh karena ngak panen panen tentu tumpang sari ini memberikan income tambahan untuk petani. Selain itu kita bisa menghemat pupuk, jadi pupuk untuk cabe rawit sekalian untuk pupuk Pepayanya.

 

Modal yang Diperlukan

Untuk menghasilkan sistem budidaya tumpangsari antara cabe rawit dengan Pepaya California yang optimal, maka diperlukan peralatan yang cukup dan memadai. Modal usaha yang diperlukan antara antara lain : 1 buah pompa air merek Honda, paralon dan instalasi air untuk pengairan tanaman, selang 10 meter, bis beton sebanyak 2 buah, kotak bamboo buat benaih sebanyak 20 kotak dan plibag sebanyak 6000 pcs, serta tabung gas.

pengalaman berwirausaha dibidang pertanian, pelatihan budidaya cabe rawit dan pepaya, modal usaha

Lely Ambar Wati, Petani Pepaya dan Program Pelatihan Budidaya Pepaya yang dilakukannya.


Kita harus juga menyiapkan modal kerja, meliputi sewa lahan harga umum untuk sewa 1 tahun seluas 5000 m, sebesar Rp5.000.000. Upayakan dapat menyewa minimal dalam 1 siklus produksi yaitu 2 tahun sebesar Rp10.000.000. Pupuk kandang yang diperlukan selama satu siklus produksi sebanyak 4 truk x Rp650.000/truk, upah kerja penyebaran kompos sebesar Rp2.600.000, pembelian mulsa sebanyak 4 rol, pembeklian bibit papaya, pengendalian hama dan penyakit, ongkos tanam cabe dan papaya, biaya penyulaman, biaya pupuk, biaya penyiraman dan biaya tenaga kerja lainnya, dengan total perkiraan biaya keseluruhan sebesar Rp163.300.000 per siklus produksi dengan waktu selama 2 tahun.
Menurut Lely Ambar Wati, petani buah Pepaya California di Kawasan Kulon Progo, Yogyakarta, dengan luas lahan budidaya sebesar 10.000 meter persegi, jika ditanami system tumpangsari antara usaha budidaya cabe rawit dengan Pepaya California membutuhkan modal sebesar Rp 170.040.000, adapun pendapatan yang bisa diperoleh dari luas tanah sebesar 10.000 meter tersebut yaitu dari 20.000 pohon cabe, dengan asumsi harga cabe Rp50.000/kg dengan asumsi panen cabe rawit per pohon sebanyak 250 gram/2 tahun hasil total yang diperoleh sebanyak Rp250.000.000, sedangkan hasil papaya California hasil produksi dengan asumsi panen papaya per pohon 50 kg x 2.000 pohon x Rp2000/kg menghasilkan pendapatan total sebesar Rp200.000.000.
Menurut perhitungan Lely, jika dihitung secara keseluruhan, maka proyeksi total pendapatan selama satu siklus produksi (2 tahun) yaitu sebesar Rp.450.000.000 dikurang Rp163.300.000 = Rp 286.700.000.
Lely berharap semakin banyak petani yang inovatif dalam melakukan budidaya hortikultura, karena peluang pasar dan potensi pasarnya sungguh sangat besar di Indonesia. “Kita harus inovatif jika menginginkan hasil yang optimal,” cetusnya. 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari