Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Korea, Kimchi, Ginseng, dan Tralala
Jumat, 15 Januari 2016 08:47 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

oleh Isdiyanto

Pariwisata menjadi andalan untuk menggerakkan perekonomian di berbagai negara. Selain investasinya murah, dampak ke sektor riil yang ditimbulkan cukup besar dan dapat dengan cepat dirasakan masyarakat.

Tahun 2015 lalu,  Indonesia dengan potensi wisata yang melimpah hanya mampu didatangi  10 juta wisatawan mancanegara untuk datang ke negeri ini, tetapi Korea Selatan, tahun 2014, negeri ginseng ini telah didatangi 14 juta wisatawan, dan diperkirakan 20 juta wisatawan di tahun 2017. Tahun 2015, negara-negara seperti Thailand dikunjungi 18,25 juta wisatawan, Singapura, 11 juta wisatawan, dan Malaysia 11,2 juta wisatawan.

Rizal Ramli,  Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, punya kiat untuk mendongkrak pariwisata Indonesia.  Selain memberikan bebas visa ke 159  negara, dan akan bertambah lagi di tahun 2016 ini, pemerintah menurut Rizal akan memperluas daerah tujuan wisata, memperbanyak jalur penerbangan ke lokasi wisata, dan meningkatkan infrastruktur dan kualitas dan daya dukung di lokasi-lokasi pariwisata, seperti perhotelan, restaurant, tempat hiburan dan sebagainya.  Bagaimana kiat lainnya agar pariwisata Indonesia meningkat?

 

Korea yang Agresif

Korea Selatanadalah salah satu negara yang sangat agresif membangun pariwisata, dan memahami pariwisata sebagai salah satu pendongkark perekonomiannya. Meski pernah didera virus MERS di awal tahun 2015 yang melumpuhkan sektor pariwisata Korea, hingga berpotensi kehilangan 2,3 triliun dolar AS, namun kesigapannya membuat pariwisata Korea bergairah kembali pada akhir 2015 lalu.  Hotel, taman, restaurant, dan tempat-tempat hiburan dipadati kembali oleh wisatawan domestik dan mancanegara.

Korea, Kimchi, Ginseng, Korea yang Agresif

Korea Selatan tidak melulu menjual keindahan atau panorama alam. Negara ini justru memiliki strategi yang sangat sederhana untuk menggaet wisatawan manca negara, mulai dari budaya, kuliner, music hingga drama. Korean (K-Pop)  dan drama Korea yang diekspor melalui serial sinetron di TV-TV yang disiarkan TV kabel di berbagai menjadi pemicu semakin banyak masyarakat dunia ingin berkunjung ke Korea.

Seperti Pulau Nami,  pulau kecil yang berada di Kawasan Chuncheon-si, Gangwon-do, tak jauh dari Seoul. Tempat ini sebenarnya hanya sebuah taman dan hutan buatan, dengan pemandangan alam yang indah dan penuh dengan bunga.  Tempat ini popular karena menjadi lokasi shooting  sinetron Korea yang terkenal, Winter Soneta. Jika anda datang kesini secara berombongan, Pulau Nami adalah tempat berfoto selfi dan bertralalala.

Begitu juga dengan Cheonggyecheon Stream, hanya sebuah sungai sepanjang 8,4 km yang berada di tengah-tengah kota Seoul direstorasi menjadi sebuah taman yang mengalir sungai deras di bawahnya, dan yang paling penting, air yang mengalir sangat bening. Di sini menjadi tempat berkumpul, sembari melihat ikan-ikan indah yang mengalir di tengah kepadatan kota Seoul.

Pusat-pusat perbelanjaan di sulap menjadi tempat wisata. Kebersihan, kemanan, dan kenyamanan sangat dijaga. Seperti di  Myeongdong, mirip pertokoan Pusat Perkulakan Mangga Dua di Jakarta, tetapi mengapa banyak wisatawan berkunjung kesana? Seorang wisatawan asal Hongkong mengungkapkan, datang ke Myeongdong adalah mencoba sensasi berbelanja, dengan bahasa tarzan, menawar, deal, dan membawa pulang barang yang diinginkan. Seorang wisatawan asal Indonesia, Myrna Dramawan, asal Surabaya, mengungkapkan kisahnya. “Saya hanya ingin mencoba sensasi berbelanja kosmetik dan pakaian di kota ini, menarik,” ujarnya.

Korea selatan juga mengemas pariwisatanya dengan sederhana untuk dinikmati wisatawan mancanegara.  Gedung-gedung pertunjukanpun tak terlalu mewah, biasa-biasa saja, namun tontonannya berkesan, khas Korea. Padat, tidak bertele-tele. Meskipun tak ada suara yang terucap dari pertunjukkannya. Ini penting, apalah arti vokal suara bahasa Korea jika pengunjung tak memahaminya. Cukup dengan pantomim, bahasa universal yang semua bangsa di dunia memahaminya.   Tentu pertunjukkan seperti ini tak ada duanya di lain negara.

 Pusat-pusat kebudayaan dan Korea “Tempo Doeloe” adalah komoditas yang tetap menarik, meskipun ditampilkan apa adanya. Hanya dikemas dan ‘dihidupkan’ kembali seperti kejadian sejatinya. Rumah-rumah tradisional, peralatan memasak, serta kehidupan yang menyertainya. Wisatawan mungkin membayangkan tentang Korea sebelumnya, sebelum zaman yang sekarang ada. Disana ada rumah dengan kegiatan manusia sebagai penghuninya, dan bekerja seperti biasanya.

Soal tempat kuliner, dan jenis makanan yang ditawarkanpun tak terlalu jauh dari keseharian Korea, dan beradaptasi dengan pengunjungnya.  Saat ini sudah mulai cukup banyak pengunjung yang beragama Islam, dan kehalalannya mulai diperhatikan.  Gaya makan lesehan, standar keminatan sesuai yang diminta (halal), harga yang terjangkau, dan kualitasnya menjadi kesadaran hampir semua pelaku bisnis kuliner di Korea Selatan. 

Pengalaman eksotik, meski hanya sekedar belajar membuat Kimchi, namun inilah wisata yang sesungguhnya. Karena persiapannya melibatkan emosi, budaya, dan sejarah Korea. Lihatlah sejarah lahirnya makanan Kimchi, juga cara membuatnya. Tak rumit, dan memang begitulah pariwisata, semua harus bias membuat dan merasakan hasilnya. Sekedar menyiapkan piring sebagai tatakan, kubis, dan cabai, garam, bawah putih, cabai, lobak, ebi (udang kecil), bubukan cabe merah dan minyak ikan. 

Cara membuatnya, dibuat metode yang sederhana. Tak perlu bahasa Korea untuk semuanya mengerti. Sang pengajar hanya mencontohkan, melakukan, tahap demi tahap, dari  menyiapkan kubis dan mengolesinya dengan bumbu-bumbu hingga merata, dan membungkusnya untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama. Tak mudah bukan.

Di lokasi-lokasi wisata lainnya, anak-anak muda bermain musik, teratur dan semua menikmatinya. Mereka tidak sedang menyuguhkan tontonan kepada para wisatawan yang datang ke tempat itu,  tetapi bermain dan bernyanyi untuk menikmatinya.

Begitu banyak tempat lain yang disuguhkan Korea, sebuah kebiasaan, tidak mengada-ada. Karena itulah yang dicari wisatawan.

Jadi, bagaimana kita harus membangun pariwisata negeri ini? Mengapa kita tidak mencontoh Korea? Bertumpu hanya pada panorama alam susah untuk mencapai target 20 juta wisatawan yang datang.

 

 

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari