Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Seni Bertahan Ketika Diterpa Gelombang Kebangkrutan
Jumat, 15 Januari 2016 08:23 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Semua orang yang pernah memiliki usaha, pasti pernah memiki pengalaman kebangkrutan. Jika belum pernah bangkrut, tunggu, anda pasti akan merasakannya, entah pada generasi anda atau generasi susudah anda.

Setiap generasi memiliki cara, setiap pemimpin punya strategi untuk mengatasi, dan seni untuk menghadapinya. Kebangkrutan dapat melanda usaha apa saja, kapan saja, dan siapa saja, tak mengenal usaha baru atau yang sudah berpengalaman ratusan tahun sekalipun. Gelombang kebangkrutan itu akan menelan siapa saja yang tidak siap, seperti angin panas yang memusnahkan dinasaurus di dunia. 

Gelombang itu dapat bersumber dari dahsyatnya persaingan, perubahan peta politik dan hankam, gaya hidup masyarakat, serta beribu sumber lain dari ekternal dan eksternal yang tidak dapat diperkirakan. Sumber gelombang itu seperti sebuah malapetaka yang dikirim Tuhan kepada kita. 

Yang dapat dilakukan bagi para pemilik usaha, khususnya pemilik usaha UKM adalah menjaga banyak hal yang dapat menjadi sumber malapetaka. Gaya hidup ‘lebih besar pasak daripada tiang’ adalah salah satu sumber gelombang kebangkrutan itu. Gaya hidup mewah yang dipaksakan, dan menggerus kekuatan likuiditas usaha.

Serakah adalah sumber gelombang malapetaka berikutnya. Bermimpi besar tidak dilarang, tetapi keserakahan akan berujung pada titik yang berhenti di tepi jurang. Keberhasilan demi keberhasilan, kesuksesan demi kesuksesan, terus seakan dunia menumpahkan emas dihadapannya, hingga keserakahan meliputinya. Jika berwirausaha tak dipandu ilmu agama, keserakahan itu benar-benar akan menghancurkannya.

Bangkrut, butuh modal, kewirausahaan, keuangan

Saat gelombang kebangkrutan benar-benar datang, perlu seni untuk menghadapinya. Seni bertahan dari gelombang. Pertama, menyesuaikan diri dari perubahan yang terjadi. Ingat pepatah lama, yang survival dari perubahan bukan yang terkuat,  bukan yang terbesar, tetapi yang paling adaptif dengan perubahan.

Kedua belajar dari kegagalan. Banyak kebangkrutan bukan disebabkan oleh kegagalan-kegagalan yang besar, tetapi disebabkan oleh kegagalan-kegagalan yang kecil, menyepelekan hal-hal kecil, dan mengaggap remeh hal-hal kecil. Mulai hari ini kita belajar memperhatikan hal-hal kecil dan detail, agar masalah besarnya dapat segera diatasi. Tidak pernah orang jatuh tersandung batu, tetapi terpeleset karena kerikil kecil.  Belajar dari kegagalan akan membuat lebih banyak file solusi dan seni mengatasi masalahnya.

Ketiga, tetap menjaga reputasi, kejujuran dan harga diri. Reputasi adalah perjalanan panjang yang telah dibangun dengan energy dan strategi, kejujuran adalah mata uang yang tak akan lekang oleh zaman dan berlaku setiap saat sebagai modal untuk membangun dan mendirikan usaha lagi, harga diri adalah etika dan brand yang tak dapat dibeli. Kebangkrutan boleh menghabiskan segalanya, tetapi tidak pada reputasi, kejujuran dan harga diri, karena itulah kekayaan yang tidak pernah hilang.

Keempat, tetaplah adil dan sadar bahwa hidup ini bukanlah milik kita. Manusia hanya meminjam, dan suatu saat akan diminta sebagian atau seluruhnya oleh pemiliknya. Jika itu terjadi, adillah pada diri sendiri. Sadarlah, bahwa semuanya bisa terjadi. 

Jika anda sadar dan memiliki seni menghadapi gelombang kehidupan, anda adalah makluk paling enjoy di muka bumi ini.    

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari