Tanggal Hari Ini : 21 Jan 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
PKL di Tanah Haram
Rabu, 04 Juni 2014 10:14 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Pedagang kaki lima atau yang sering disebut PKL,  ternyata bukan hanya ada di Indonesia, dan menimbulkan beribu masalah. Masalah yang timbul dengan adanya PKL antara lain kesemrawutan di badan jalan, kemacetan di pusat-pusat keramaian dan trotoar,  sampah kota, dan lain-lain.  

Di Kota Mekah dan Madinah pun, PKL mewarnai kehidupan di kota suci ummat Islam itu. Di seputaran masjid Nabawi, misalnya, ratusan PKL yang berjualan aneka pakaian, kerajinan, hingga makanan juga turut menyemut, menyongsong ribuan calon pembeli yang datang bergelombang usai menunaikan sholat berjamaah di masjid.

“Sepuluh riyal, sepuluh riyal, silakan, yang ini Khamsa, lima riyal”. Begitulah mereka, PKL itu  menjajakan dagangannya dengan suara keras, mirip PKL-PKL di pasar-pasar di Indonesia. Mereka memang menyasar jamaah umroh atau jamaah haji asal Malaysia atau Indonesia sebagai calon pembelinya, terutama jamaah asal Indonesia yang terbanyak jumlahnya, dan dikenal paling suka berbelanja di PKL.

Meski demikian, calon pembeli dari negara lain juga turut ‘ngeriung’ PKL, seperti jamaah asal Palestina, Mesir, Turki, Libya, Pakistan, China,  dan negara-negara Afrika lainnya. 

 

Menjaga Kebersihan dan Ketertiban

Selain di seputaran Masjid Nabawi, PKL juga banyak bertebaran di sekitar masjid Quba (Masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad), juga ada di Masjid Qiblatain, dan lokasi-lokasi yang menjadi tempat persinggahan dan ziarah para jamaah haji dan umroh.

Namun yang berbeda antara PKL-PKL di Indonesia dengan di tempat-tempat tersebut adalah kepeduliannya para PKL untuk menjaga kebersihan. Di negara kita, para  PKL-PKL sangat malas menjaga kebersihan dan seringkali mengabaikan pentingnya membuang sampah di tempat yang ditentukan. Mereka acuh tak acuh terhadap pengelolaan sampah, bahkan jika kita lihat,  para PKL usai  berjualan selalu ‘meninggalkan sampah’.  

Pemerintah Arab Saudi memang tidak melarang kehadiran PKL-PKL tersebut, namun mereka mengaturnya sehingga terlihat tertib dan rapi, terlihat tidak semrawut dan mereka diberikan informasi mengenai batasan-batasan wilayah yang boleh sebagai tempat berjualan dan wilayah yang tidak boleh sebagai tempat berjualan.

Mereka diberikan hak untuk hidup dan belajar berdagang secara halal serta mengurangi pengangguran, khususnya bagi masyarakat kelas bawah.

Bagi Arab Saudi menghapus PKL-PKL di kawasan Masjid Nabawi atau Masjidil Haram mungkin tidak  sulit, tetapi mereka pasti tahu PKL-PKL itu adalah bagian dari mata rantai kehidupan dan bisnis yang harus ada dan tetap dilestarikan. Masalahnya adalah bagaimana keberadaan mereka dapat tertib dan tidak mengurangi keindahan kota.

Kita berharap, bukan hanya pemimpin kita yang peduli PKL, yang notabene adalah pengusaha mikro dan kecil, tetapi para PKL-PKL harus sadar diri bahwa mereka harus menjadi bagian dari kehidupan kota yang bersih, rapid an teratur.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari