Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
DUA GARDAN KELUARGA BERPENGHASILAN GANDA
Jumat, 17 Mei 2013 11:58 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berakit-rakit ke hulu, beranang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Barangkali itulah ungkapan yang menghibur bagi siapapun yang ingin tetap sukses sepanjang hidupnya.
    Sebagai motivator kewirausahaan, yang juga belajar bersama-sama dengan masyarakat, bagaimana mengembangkan kewirausahaan di tengah-tengah masyarakat,  tidak ada cerita yang menarik selain dari mendengar kesuksesan orang-orang yang tengah mengarungi kehidupannya.
    Meski ada juga banyak cerita tentang kegagalan, tetapi kami melihatnya hal itu adalah sebuah proses belajar yang harus terus ditumbuhkan. Karena pada dasarnya tidak ada sebuah kesuksesan yang tanpa melalui cobaan berbagai kegagalan. Kegagalan adalah menu wajib yang harus ditelan oleh setiap orang yang berjalan menuju sukses.

Kisah Yati
     Saya mendengar kisah Yati (33), seorang karyawati pabrik konveksi di Kawasan Bogor, Jawa Barat. Kepada saya ia bercerita, bahwa inspirasi kewirausahaan yang ia dengarkan dan kemudian ia praktekkan sangat mengubah hidupnya.
    “Saya masih ingat apa yang saya de-ngar dahulu. Gunakan waktu luang untuk mencoba membuat usaha, yang kecil-kecil dahulu. Mungkin awal-awalnya  akan menyita waktu dan harus bekerja keras untuk mewujudkannya, tetapi dari sana-lah bisnis itu dimulai,” ujarnya.
    Saya jadi teringat kembali saat menjadi narasumber disebuah acara seminar kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Sebuah Pengembang (Developer) bekerjasama dengan Kantor Camat Cimanggis Depok. Saat itu saya masih teringat, ada seorang wanita paruh baya, namanya Yati, pada saat sesi bertanya ia mengajukan pertanyaan demikian : Pak bagaimana caranya memulai usaha, sementara waktu saya habis dari Senin hingga Jumat be-kerja di pabrik. Saya harus berbisnis apa ya pak,” ujarnya dengan penuh semangat kala itu.
    Seminggu kemudian, Yati memutuskan untuk mencoba membuat usaha keripik tempe. Usaha yang modalnya relative kecil, cara membuatnya mudah, dan iseng-iseng untuk memulai usaha.

pengusaha berpenghasilan milyaran, pengusaha paling sukses, usaha paling menggiurkan


    Pada hari Sabtu dan Minggu, bersama suaminya ia berbelanja bahan-bahan di pasar, dan kemudian membuat keripik tempe dari resep sederhana yang dimilikinya.Setiap Sabtu hingga Minggu siang produk-produk yang ia buat dititipkan ke warung-warung yang tidak jauh dari rumahnya.
    Rupanya keripik tempe yang ia buat rasanya enak dan disukai pelanggan. Belum genap tiga hari, banyak pemilik warung menelepon minta dikirimi keripik tempenya sekalian mengambil uangnya. Terpaksa sepulang kerja Yati menyempatkan ke pasar berbelanja bahan-bahan dan membuat keripik tempe pada malam harinya. Hingga suatu saat kiriman tempenya itu setiap hari habis dan selalu minta dikirimi segera. Dalam perjalan bisnis ini Yati menelpon saya.
    “Pak saya kuwalahan. Pesanan ba-nyak sekali,” ujarnya.
    Saya menyarankan agar pekerjaan-pekerjaan yang teknis mulai meminta bantuan suami, seperti belanja bahan-bahan di pasar, demikian juga menggo-reng dan menggepak ke dalam bungkus. Saya juga menyarankan untuk merekrut satu orang yang membantu menggoreng keripik tempe dan mengepaknya, ambil dari tetangga sebelah saja yang masih menganggur atau belum memiliki pekerjaan.
    “Tapi pak saya kan belum bisa menggaji besar kepada mereka,”ujarnya.
    Tidak apa-apa, mereka tidak harus bekerja sepanjang hari di rumahmu. Undang kalau pas ada pekerjaan saja. Se-telah selesai mereka boleh pulang, toh rumahnya dekat. Apalagi pekerjaan itu dilakukan sehabis Isya, jadi ada banyak waktu kosong. Ongkos kerjanya disesuaikan dengan beban pekerjaannya dan selayaknya, ujar saya.
    Seminggu kemudian, Yati menelpon saya dengan suara yang lebih girang.
    “Pak saya sudah punya karyawan 3 orang. Saya sekarang memasok keripik tempe hingga ke Bogor Pak, bukan hanya di sini-sini saja (Kawasan Cimanggis, Red). Sudah kuwalahan Pak. Tapi Pak,  saya masih belum berani keluar dari pekerjaan saya di pabrik, habis tanggung, gaji baru dinaikkan oleh pabrik”.

pengusaha berpenghasilan milyaran, pengusaha paling sukses, usaha paling menggiurkan


    Saya menyahut : Alhamdulillah. Tidak apa-apa, jangan keluar dulu. Belajar saja dulu di pabrik bagaimana me-ngatur karyawan, mengelola keuangan, dan bagaimana mengembangkan pasar. Kalau sedang di pabrik jangan diam saja, sering-seringlah bertanya kepada supervisor, para manajer, bahkan kepada mereka yang ditugasi mengembangkan bisnis itu, bagaimana caranya mengelola usaha supaya besar.
    Yati sepertinya menurut saja apa yang saya katakan. Perkembangan usahanya selalu ia ceritakan. Ilmu-ilmu baru yang ia peroleh dari pabrik juga ia sampaikan. Termasuk cara membuat kemasan, memasok ke retail market, super market, dan membuat merek.
    “Wooh kamu sudah jago bisnis ya Yati,” ujar saya.
    “Hehehe, Alhamdulillah Pak. Saya sudah keluar sekarang dari pabrik. Bagaimana tidak keluar Pak, penghasilan saya sudah 3 kali  dari gaji saya di pabrik. Hanya suami saya yang saya minta tetap bekerja di sana. Tapi saya sudah mempertimbangkan agar suami saya juga segera keluar,” cetusnya.
    Kisah lain juga saya dengar dari seseorang karyawan Pabrik Yamaha, di Bekasi. Sebut saja Mister Y.  Saya se-ngaja merahasiakan namanya karena ia masih aktif bekerja sebagai karyawan, sebagai sopir eksekutif dari Jepang. “Saya malu Pak diberitakan di Majalah  WK, nanti dikira sombong oleh teman-teman,” ujarnya memberi alasan ketika saya meminta pengalaman hidupnya saya wartakan.
    Mister Y saat ini berumur 55 tahun. Beberapa bulan lagi ia harus pensiun. Namun sepuluh tahun lalu bersama istrinya ia membangun bisnis menjadi suplyer ayam kampung.  Usaha ini dikelola istrinya, mendatangkan ayam-ayam khusus kampung dari Solo dan memasok sekurang-kurangnya 500 ekor ayam ke resto-resto di Jakarta dengan omzet 30-40 juta per hari.  
    Dari hasil usahanya inilah ia mampu menyekolahkan anaknya yang tertua ke sekolah jenjang pasca sarjana ke Amerika. Anak keduanya, lulus dari UGM dan sudah bekerja, sedangkan anak ketiganya masih duduk di SLTA.
    Kisah-kisah yang saya dengar ini saya umpamakan mobil yang memiliki dua gardan.  Suami bekerja di kantor istrinya yang dirumah membuat usaha dan kesi-bukan bisnis yang menghasilkan uang. Alhasil mereka seperti mobil dengan dua gardan, keluarga yang berpenghasilan ganda. Berminat? Silakan kontak ke isdiyanto_he@yahoo.com untuk mendiskusikan lebih lanjut.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari