Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Usaha Kecil menengah Penyelamat Krisis Ekonomi Amerika?
Senin, 06 Agustus 2012 14:04 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Oleh Lusi Efriani, Wartawan WK

(Bagian 3)

Pengantar Redaksi : Lusi Efriani, Jurnalis Majalah Wirausaha dan Keuangan berkesempatan mengikuti Experience Learning International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat (AS), selama 21 hari. Catatan perjalanannya  dimuat secara bersambung  untuk berbagi pengalaman dengan para pewirausaha Indonesia. Berikut catatannya.

Chicago,AS. Kota yang tidak pernah terpejam. Hampir tiap jam saya mendengar bunyi sirene mobil polisi yang bunyinya cukup berisik. Dalam hati saya, apakah kota ini tingkat kejahatannya benar-benar cukup tinggi sampai seringkali bunyi sirene mobil polisi terdengar berkali-kali. Berbeda dengan Washington, DC dan Kalamazoo yang begitu tenang.

Chicago jumlah penduduknya padat. Orangnya modis-modis. Sebagai kota metropolis sangat terasa betul atmosfirnya.

Di kota inilah saya mempelajari entrepreneurship berkontribusi dalam peningkatan ekonomi AS, juga peranan Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah perusahaan besar dan lembaga keuangan membantu usaha kecil.

Di Chicago saya berkesempatan berkunjung di Kantor Pusat Boeing. Disini saya mempelajari bagaimana perusahaan besar sekelas Boeing menyalurkan dana CSR nya. Sebelum kami melakukan diskusi, saya ditemani Direktur CSR Boeing Company untuk berkeliling melihat project- project Boeing. Sungguh fantastis.

Dalam kesempatan ini saya bertemu dengan Direktur CSRnya, bernama Tracei Hall. Dia menjelaskan bahwa Boeing menyalurkan dana CSR nya dengan cara mendirikan pabrik-pabrik yang menyerap tenaga kerja di negara miskin, seperti di India misalnya. Alasan mengapa Boeing memilih India untuk program CSR nya, karena di India masih banyak orang miskin namun juga banyak orang-orang pintar di sana dan yang terpenting masyarakatnya bisa berbahasa Inggris.

Boeing bekerjasama dengan TATA Group,  perusahaan yang cukup besar di India untuk membangun pabrik Boeing disana. Dengan cara itu, Boeing dapat membantu masyarakat miskin India, tetapi di sisi lain ia juga memanfaatkan kepintaran  orang india dalam teknlogi.

Saya sempat menanyakan apakah tidak ada diskriminasi di Perusahaan Boeing mengingat dia berkulit hitam?. Tracei kemudian menjelaskan bahwa beruntung sekali dia bekerja di perusahaan sekelas Boeing  dimana perusahaan ini pekerjanya berasal dari seluruh dunia maka mereka sudah terbiasa dengan perbedaan.

Saya juga sempat menanyakan bagaimana persaingan dalam dunia kerjanya. Tracei tidak melihat orang lain sebagai pesaing atau musuh. Tracei berkata bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Hal tersulit menurut Tracei adalah mengalahkan diri sendiri dari rasa malas.

Apakah tidak minder atau merasa tersaingi dengan wanita-wanita yang kerja di perusahaannya dan mereka hanya mengandalkan kecantikan. Tracei dengan tegas menjawab bahwa dia merasa cantik, dia menambahkan bahwa setiap wanita itu pasti punya kecantikannya sendiri-sendiri. Berbanggalah dengan dirimu sendiri. Percaya dirilah dengan apa yang kamu punya. Satu pesan saya bahwa kamu tidak perlu takut akan kerut dibawah matamu yang timbul karena kamu banyak membaca buku. Karena kerutan dimatamu itulah bukti nyata bahwa otakmu tidak kosong, kamu rajin membaca dan itu bisa membuat kamu menjadi wanita yang cerdas. Cantik itu tidak hanya identik dengan keelokan wajah tetapi dengan isi kepala dan kepribadian yang bagus itu akan membuat semua wanita menjadi cantik.

            Perjalanan berikutnya ke Kantor Gubernur Illinois.Disini kami berdiskusi dengan Samreen Khan (Senior Policy Advisor and Governor”s Liaison to Asians and Muslims) juga dengan Iwona W. Bochenska (International Trade Specialist).  Saya sempat berdiskusi dengan anak muda keturunan Pakistan(Samreen Khan) dan umurnya jauh dibawah saya, kira-kira 26 tahun. Selama berdiskusi saya kira dia adalah sekretaris Gubernur ternyata gadis ini adalah seorang penasehat Gubernur. Luar biasa, umur 26 tahun menjadi penasehat gubernur.

Selama di AS, saya melihat banyak anak muda yang menduduki jabatan-jabatan penting. Berbeda dengan di Indonesia. Generasi muda di Amerika betul-betul di beri kesempatan untuk berkarya baik di pemerintahan maupun di sektor swasta.

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Accion Chicago, sebuah lembaga keuangan yang membantu usaha kecil dan menengah (UKM) baik dalam pembiyaan maupun training-training.

Pertemuan ini sebetulnya tidak ada dalam jadwal. Namun berkat bantuan Ean Johnson (U.S Economic Development Administration) kami dapat berdiskusi dengan Jonathan Brereton,  Chief Executive Accion Chicago. Kantor yang sederhana namun rapi dan banyak sekali staf yang bekerja di kantor ini. Padahal lembaga bantuan UKM ini sifatnya lebih sebagai lembaga swadaya masyarakat/ LSM. Banyak sekali para sukarelawan yang membantu lembaga keuangan ini.

           Di kota Chicago ini saya banyak mendapatkan pelajaran tentang dunia usaha di Amerika khususnya sektor UKM. Pemerintah Amerika juga menyadari bahwa UKM lah yang paling tahan terhadap krisis ekonomi, dan banyak sekali lembaga-lembaga sosial yang peduli terhadap sektor UKM. 

Di sini saya sempat membandingkan rate bunga bank untuk sektor UKM di beberapa negara. Dari pengalaman saya selama ini yang pernah berkunjung untuk melakukan study banding ke China, Malaysia, Singapora dan Amerika, saya sangat terkejut dengan rate bunga bank untuk pinjaman bagi para UKM.

Ternyata rate bunga bank  untuk UKM yang tertinggi adalah di negara Indonesia. Di China rate bunga bank untuk UKM hanya berkisar 2-3 persen per tahun, di Malaysia bunga bank untuk UKM berkisar 3-4% per tahun, di Singapore berkisar hanya 2-3% per tahun, di Amerika 4-6%, sedangkan di Indonesia rate bunga bank  untuk sektor UKM mencapai 16-22% per tahun.

Sungguh ironis. Pantas saja UKM di Indonesia sangat sulit bersaing dengan produk negara lain. Jangankan untuk bersaing, untuk mempertahankan usaha saja cukup sulit dengan kondisi ekonomi sekarang ini. Berharap sekali pemerintah Indonesia mengkaji ulang tentang rate bunga bank untuk para UKM ini, tetapi pasti itu tak mudah. Ada sudut pandang yang berbeda cara melihat UKM antara AS dan Indonesia. Tetapi mengapa rate bunga bank di negara-negara Asia bisa lebih murah sementara di Indonesia tidak? 

Satu hal lagi, ada perbedaan perlakuan perbankan  dan pemerintah terhadap pengusaha yang usahanya pernah pailit. Kalau di Indonesia sangat susah bagi para pengusaha UKM yang pernah bangkrut untuk memperoleh bantuan lagi dari pihak bank atau pemerintah. Bahkan bisa jadi malah di blacklist, beda sekali dengan di Amerika yang selalu memberikan “second chance(negara memberikan kesempatan kedua) bagi para pengusaha UKM yang gagal untuk berusaha kembali atas bimbingan dan dukungan negara.

Di Amerika jika ada pengusaha yang gagal maka lebih diperhatikan oleh pihak pemerintah dan perbankan. Mereka akan membantu menganalisa apa penyebab kegagalan usaha dari seorang debitur dan mereka berusaha untuk mencarikan solusinya dan pihak perbankan tidak akan segan –segan untuk mengucurkan kembali dana agar pengusaha ini dapat bangkit kembali.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari