Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kita adalah Makhluk Marketing
Rabu, 09 Mei 2012 13:24 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 Oleh Ugie Nugroho

Apakah kita pernah menyadari bahwa kita ini sebenarnya “makhluk  marketing”?

Apa maksudnya? Maksudnya, dalam menjalani hidup ini kita tidak pernah lepas dari kegiatan marketing (penjualan, atau pemasaran). Coba kita lihat perilaku seorang bayi. Pada saat

dia mengompol, dia akan menangis sekeras-kerasnya. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian sang ibu, agar popoknya diganti. Setelah popoknya diganti, bayi akan merasa nyaman, dan berhentilah tangisannya.

Apa yang dilakukan sang bayi adalah salah satu bentuk marketing  untuk mendapatkan suatu kondisi yang lebih baik. Kemudian, pada saat beranjak menjadi anak-anak, sering kita lihat seorang anak melaporkan nilai hasil ulangannya kepada orang tuanya. Tujuannya, mulai sekedar dipuji sampai mengharapkan mendapatkan suatu hadiah tertentu dari orang tuanya.

Ini juga tindakan marketing yang dilakukan anak kecil tersebut. Kegiatan yang dilakukan manusia, walaupun sebenarnya alamiah, namun sangat dipengaruhi oleh pertimbangan akal yang kita miliki. Pada saat kecil, alam bawah sadar lebih dominan melatarbelakangi tindakan marketing kita. Misal, pada saat mengompol, tanpa pikir panjang, bayi langsung menangis. Namun pada saat kita semakin dewasa, pertimbangan alam sadar kita semakin mendominasi dibanding alam bawah sadar kita.

Dalam dunia kerja, sering kita melihat seseorang gagal mencapai target yang ditetapkan. Atau, dia gagal dipromosikan. Atau, dia mengalami kemandegan karir. Intinya, dia gagal melakukan aktivitas marketing (dalam arti luas). Misal, seorang pemasar ditargetkan meningkatkan penjualannya. Apabila persaingan semakin ketat, maka dia tidak bisa hanya melakukan kegiatan marketing sebagaimana yang dia lakukan pada tahun sebelumnya.

Permasalahannya, sering kita terjebak pada situasi terpaku pada area yang kita tahu saja, tanpa ada keberanian melangkah di luar area comfort zone yang selama ini memberinya kesuksesan. Padahal lingkungan berubah dengan cepat, sehingga terus dibutuhkan pola pikir marketing yang selalu  up date dengan perubahan yang terjadi.

Lalu apa yang mesti diperhatikan individu sebagai makhluk  marketing? Pertama, kegiatan kita ini dipengaruhi dua pola pikir, yaitu pola pikir sadar dan pola pikir bawah sadar. Dan sebenarnya, tindakan kita hanya dipengaruhi 3-5% alam sadar. Kalau kita sampai mendewakan alam sadar dan percaya 100% dengan pikiran sadar kita saja, maka tidak salah bila kita sering gagal dalam hidup kita, karena pada saat ditawari melakukan sesuatu di luar yang kita tahu, otomatis kita akan cenderung menolaknya atau pesimis akan mampu menyelesaikannya.

Ingat fenomena gunung es (iceberg). Gunung es di permukaan laut biasanya terlihat kecil saja (alam sadar), namun yang di bawahnya sangat besar (alam bawah sadar).

Manusia biasanya hanya memperhatikan potensi yang kelihatan (skill and knowledge), serta mengabaikan yang di bawahnya (kompetensi). Akibatnya, seringkali kita terjebak dalam keterbatasan-keterbatasan yang membelenggu pengembangan potensi kita.

Kedua, sering kita merasa nyaman berada di comfort zone, padahal untuk sukses kita harus berani berpikir dan melakukan sesuatu  out of the box. Kita punya potensi 95-97% kekuatan alam bawah sadar yang dapat mendukung kita melakukan aktivitas out of the box.

Hasilnya, saya jamin pasti akan sukses luar biasa, karena yang kita tidak tahu belum tentu menjadi kelemahan bagi kita, justru mungkin ini adalah area kekuatan kita yang selama ini kita pendam terus karena kita sendiri yang tidak pernah memperhatikan kekuatan lain yang kita miliki.

Ketiga, manusia akan selalu menghadapi situasi dari tidak tahu, meningkat menjadi tahu, lalu menjadi trampil. Untuk sukses lebih lanjut, kita butuh kreatifitas. Misal, kita bertugas sebagai pemasar kredit. Awalnya kita tidak tahu apa itu kredit. Lalu setelah dididik, kita menjadi tahu. Lalu setelah satu tahun kita mengerjakan tugas sebagai pemasar kredit, kita menjadi trampil. Kalau di bidang ini kita bertahan sampai lima tahun, maka ada kemungkinan

kita menjadi individu trampil dengan pengalaman lima tahun.

Tapi, tunggu dulu! Kemungkinannya ada dua, yaitu kita benar-benar trampil dengan pengalaman lima tahun, atau trampil dengan pengalaman satu tahun yang diulang lima kali. Ini berbeda. Setelah trampil, kita butuh kreatifi tas  untuk menambah  personal value kita, sehingga kita dapat semakin sukses dengan personal value yang semakin tinggi seiring dengan berjalannya waktu.

Nah, kepada teman-teman semua, kita harus memahami bahwa kita ini makhluk  marketing. Kita harus terus menjual apa yang ada pada diri kita, mulai dari menjual nama baik dan potensi diri kita, produk perusahaan kita, sampai menjual nama baik perusahaan tempat kita bekerja.

Untuk sukses, kita jangan terjebak di pola pikir alam sadar saja. Kita harus berani berpikir out of the box, dan kita harus selalu menjadi makhluk kreatif untuk meningkatkan nilai tambah kita.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari