Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Daya Saing Rendah Peluang atau Tantangan
Rabu, 09 Mei 2012 11:53 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 

Indonesia, lanjut Menteri Syarief, masih dipandang sebagai negara yang memiliki  daya saing sangat rendah. Menurut hasil studi World Economic Forum 2010, peringkat daya saing Indonesia ada pada urutan ke-44 dari 132 negara yang disurvei dalam kemudahan berbisnis.

Bandingkan dengan Brunei Darussalam ke-28, China ke-27, Malaysia ke-26, Thailand ke-36 dan Singapura ke-3. Kondisi ini tentu menjadi sangat tidak menguntungkan ketika Indonesia mencoba mempertahankan atau masuk sebagai pemain baru di pasar global. Bahkan di awal dibukanya kran globalisasi saat ini dalam kerangka ASEAN-China FTA sudah mulai terasa membanjirnya produk-produk luar khususnya China yang masuk ke dalam pasar di Indonesia, dengan harga dan kualitas yang sangat kompetitif, relatif secara perlahan mulai menyisihkan produk-produk dalam negeri.

Di sisi lain, Indonesia, lanjut Menteri, masih harus berusaha keras mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka memerangi masalah pengangguran.“Masalah pengangguran tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah sendiri tanpa keterlibatan berbagai pihak,” ujar Syarief.

Upaya kreatif seperti ini (ISMBEA Award), lanjut Menteri,  yang diprakarsai oleh Majalah Wirausaha & Keuangan dengan pemberian penghargaan kepada yang berhasil dan kreatif akan mampu mendorong dan menjadi contoh bagi tumbuhnya wirausaha-wirausaha baru di tanah air, sehingga kehadiran para pewirausaha tersebut dalam kancah bisnis di tanah air mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.

“Kita tahu bahwa masalah pengangguran sangat erat kaitannya dengan perkembangan ekonomi. Kalau ekonomi berhasil dikembangkan, tingkat pengangguran biasanya juga akan berkurang,” cetusnya.

 

Kewirausahaan adalah Keniscayaan

Sejak dua tahun terakhir ini jumlah pengangguran di Indonesia menurut Menteri, cenderung menurun. Berdasarkan data BPS, Juli 2010,  pada tahun 2009 jumlah pengangguran terbuka sebanyak 8,14% dan pada bulan Februari 2010 sudah menurun menjadi 7,41%.

Namun, menteri mengingatkan, agar kita perlu waspada karena ada perkiraan setiap tahun akan terjadi penambahan sekitar 2 juta - 2,5 juta angkatan kerja baru yang masih belum memperoleh pekerjaan. Mereka berpotensi menganggur, jika tidak dapat mengembangkan dan membuka lapangan kerja sendiri.

Hal ini, lanjutnya, karena tambahan penyerapan tenaga kerja setiap tahun dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama ini maksimal hanya 1 juta lapangan kerja yang berhasil diciptakan.

”Ada selisih yang tidak bekerja sekitar 1-1,5 juta orang setiap tahun,” ujarnya.

Sebelum reformasi tahun 1998, ketika pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 7% pertahun penyerapan tenaga kerja juga relatif baik. Saat itu, setiap terjadi kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi, ada tambahan sekitar 500 ribu orang tenaga kerja baru yang diserap. Sebaliknya, saat ini setiap kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap sekitar 300 ribu orang saja.

Ini, lanjutnya,  berarti bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang ada kurang berkualitas dan mungkin lebih didorong oleh faktor konsumsi. Pertumbuhan yang berkualitas adalah kalau kontribusi investasi dan ekspor tinggi, hal ini menunjukkan sektor riil berkembang dengan baik.

            Untuk mengurangi masalah pengangguran tersebut, lanjut Menteri, idealnya dapat dilakukan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melalui investasi dan ekspor. Upaya ini tampaknya belum berhasil terjadi selama tahun 2008 dan 2009 yang lalu ketika ekonomi Indonesia tumbuh masing-masing 6,1% dan 4,3%.

”Pertumbuhan ekonomi ketika itu lebih banyak didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Menteri berharap, pemerintah akan memberikan dorongan yang optimal bagi tumbuhnya investasi-investasi baru di Indonesia, dengan meminimalisasi risiko-risiko investasi baik karena iklim berusaha yang belum kondusif, maupun daya beli masyarakat yang masih lemah.

 

Tantangan UKM ke Depan Meningkatkan Produktivitas

Menteri Negara Koperasi dan UKM RI, DR Syarief Hasan mengingatkan para pebisnis UKM untuk bekerja lebih keras agar memiliki daya saing dan produktivitas yang lebih kuat dan tinggi serta  mampu memberikan solusi bagi masalah pengangguran di tanah air.

”Kita harus mendorong para UKM semakin inovatif, sehingga memiliki daya saing dan produktivitas yang tinggi,” cetusnya.

Hal ini penting, lanjutnya, karena berdasarkan  tingkat produktivitas, masih ada kesenjangan yang cukup tinggi antara usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah di Indonesia.

Berdasarkan  data yang dilansir Kementerian Negara Koperasi dan UKM menunjukkan masih ada ketimpangan yang cukup lebar pada tingkat produktivitas antara usaha mikro dan kecil, usaha menengah dan usaha besar, baik per-unit usaha maupun per-tenaga kerja atas dasar harga konstan pada tahun 2000.

”Rata-rata rasio produktivitas per-unit usaha dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2009 untuk usaha mikro dibandingkan dengan usaha kecil dibandingkan dengan usaha menengah dan usaha besar adalah: 1 berbanding 32 berbanding 568 berbanding 14.646,” ujarnya.

Kesenjangan atau ketimpangan produktivitas antara pelaku ekonomi ini erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi. Usaha mikro dan kecil yang relatif masih menggunakan teknologi sangat sederhana dalam proses produksi tentu berimplikasi produktivitasnya juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan usaha menengah dan besar yang sudah menggunakan teknologi maju atau canggih.Namun Menteri mengingatkan, kreatifitas dan inovasi terus menerus akan mampu mengatasi kesenjangan tersebut.

 

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari