Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Memperkuat Entreprenurship Kita
Rabu, 09 Mei 2012 09:11 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Entrepreneurship  atau kewirausahaan  sudah lama dikenal di Nusantara.  Para saudagar dari Kerajaan-kerajaan  di Nusantara telah lama mengenal adat berdagang, dan berwirausaha, dan bersama-sama dengan Bangsa China, India, dan bangsa besar lainnya telah menjalin hubungan wirausaha yang setara. Saat itu  Bangsa-bangsa di Nusantara adalah bagian dari bangsa yang besar  yang memiliki naluri dan hubungan kewirausahaan yang kuat dengan bangsa lainnya.

Setidaknya, sejarah sebagai ‘bangsa dan pewirausaha besar’ telah tertoreh jauh sebelum abad ketujuh masehi, di relief Candi Borobudur. Suka atau tidak suka, relief itu telah menceritakan keadaan zamannya. Armada-armada dagang Nusantara telah mampu menjelajah jauh ke bagian dunia lain di dunia. Nenek moyang kita adalah bangsa besar dan kita adalah keturunan pewirausaha-pewirausaha hebat di zamannya.

Penjajah Lama & Penjajah Baru

Kehebatan sebagai bangsa besar luntur dengan datangnya penjajah, yang sengaja ingin menghilangkan genetis entrepreneurship yang diturunkan nenek moyang kita. Genetis entrepreneurship itu adalah, keberanian, kejujuran, dan kemampuan untuk mengarungi marabahaya sekalipun untuk sebuah kejayaan.

Penjajah-penjajah lama telah menancapkan ketakutan, kegamangan, kemunafikan, serta kemauan untuk mampu berdiri di kaki sendiri, dan bersama-sama menciptakan kesejahteraan untuk bangsa dan negara.

Meski kesadaran kewirausahaan itu mulai tumbuh, namun berjalan sangat lambat  dan belum memperoleh dukungan yang luas sehingga  menjadi kesadaran bersama. Kampus-kampus, para pejabat, juga penyelenggara negara, masih gamang dan gagap jika berbicara tentang kewirausahaan.

Kemampuan negara belum sepenuhnya diarahkan untuk menciptakan bagaimana agar bangsa ini menjadi bangsa besar dengan kekuatan sendiri, yang mampu mengolah kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan untuk kesejahteraan rakyatnya. 

Kita belum benar-benar terbebas dari penjajah. Setidaknya, masih ada penjajah baru yang bersemayam di hati kita, yaitu  hedonisme,  keserakahan,  dan ketidakpedulian.

Jika dari kita mau menolong satu keluarga, agar mereka mampu mandiri dan berwirausaha, menciptakan lapangan kerja, mampu berkreasi membuat produk-produk dan jasa, niscaya kita tidak usah lagi mengirim ‘babu-babu’ lagi ke berbagai negara. Bangsa yang besar tentu tidak akan mau dan sudi mengirim babu-babu, lalu ia tersiksa di sana. Juga tak akan ada tangis karena kekurangan pangan dan kemiskinan. Tidak juga kebodohan, karena ketiadaan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Kita malu, tetapi juga geram. Mengapa kita bangsa yang kaya kekayaan alam, tetapi miskin?. Ya, karena kita telah kehilangan semangat kewirausahaan,  dan tak berupaya untuk mendukungnya. Apakah kita pejabat, dosen, atau pengelola negara, atau bahkan pebisnis sekalipun, mari hal ini kita renungkan.Selamat buat anda yang peduli dengan kewirausahaan, peduli dengan UKM kita. Semoga Tuhan membalasnya.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari