Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Punya Uang Tetapi Kenapa Tetap Ngutang ?
Jumat, 04 Mei 2012 15:07 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Oleh Fajar S Pramono

Cuaca tak konsisten hari ini. Siang tadi panas minta ampun. Debu-debu beterbangan kesana-kemari. Begitu masuk waktu Isya’, angin panas berganti dengan angin lembab, dan tak lama kemudian menjelma menjadi hujan yang cukup lebat.

Untunglah saya, Bli Wayan, Uda Mail dan Bang Sinaga sudah ”telanjur” sampai ke balai kampung ini. Kalau tidak, kami pasti memilih mengkerut menekuk lutut di bawah selimut. Hehe.

”Hangatkan kami dengan kuliahmu, Mas Ndoet!” teriak bariton Bang Sinaga menggelegar di tengah hujan.

”Haha... bisa aja kau, Bang!” saya membalas dengan teriakan juga.

Okelah, batin saya. Saya mencari ide beberapa detik. ”Pernah dengan soal kredit cash collateral, Bang?” tanya saya, sembari mendekat ke Bang Sinaga.

”Cash collateral?” Bang Sinaga berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya tak lama kemudian. ”Belum, Mas,” katanya.

”Uda Mail? Bli Wayan?” tanya saya kepada dua kawan yang sedari tadi malah menggigil. Keduanya pun menggeleng serempak.

”Ookeke lah ka kalau beg beg begitu...,” kata saya menirukan ”trade mark” sebuah band baru. Ketiga sahabat saya tertawa.

”Cash collateral, atau sering disebut sebagai ’cash coll’ saja, adalah cerita orang yang punya duit, tetapi tetap ngutang,” kata saya membuka topik.

Karena gemuruh bunyi hujan cukup dominan, kami saling mendekat. Melingkar.

”Maksud Mas Ndoet?” tanya Bli Wayan.

”Ya. Karena cash coll itu adalah kredit yang dijamin atau diaguni dengan jaminan kas. Uang cash, atau uang dalam bentuk simpanan. Misalnya, deposito,” saya mulai menerangkan.

”Nah, orang punya deposito kan berarti orang yang punya duit kan?” saya melempar pertanyaan.

Bli Wayan dan Bang Sinaga mengangguk.

”Iya, betul,” hanya Uda Mail yang mengiyakan dengan suara.

”Ada yang ’aneh’, nggak? Punya duit, tapi malah pinjam duit ke bank?” tanya saya lagi.

Hening sejenak.

”Iya juga, sih,” jawab Uda Mail lirih.

”Kenapa nggak dipakai saja uangnya itu?” lanjutnya.

Saya tersenyum. Bang Sinaga dan Bli Wayan baru ngeh tampaknya.

”Iya. Kenapa, Mas?” tanya Bli Wayan kemudian.

”Begini,” kata saya.

”Orang punya uang, baik dalam bentuk cash maupun tabungan ataupun deposito, berarti orang itu punya aset. Punya kekayaan. Hanya, kalau rumah, mobil, pabrik, mesin-mesin produksi dan sejenisnya itu diistilahkan sebagai aktiva tetap, maka uang atau simpanan di bank tadi masuk sebagai aktiva lancar. Aset yang likuid, alias gampang dicairkan.”

Lalu saya menjelaskan lebih panjang lebar.

Bahwa sebagai aset, maka tak sedikit orang yang sesungguhnya tak mau ”kehilangan” asetnya untuk menyuntik modal kerja usaha atau investasi yang akan dilakukannya. Mereka seolah ”sayang” pada harta kekayaan yang selama ini telah menjadi ”tabungan”-nya. Padahal sesungguhnya, aset likuid berupa simpanan di bank itu tak beda dengan ”simpanan” lain yang diwujudkan dalam bentuk rumah, mobil, pabrik, atau mesin-mesin tadi.

Nah, jika selama ini orang banyak menyerahkan aktiva tetapnya sebagai agunan bank dengan asumsi dan keyakinan bahwa asetnya tak akan berkurang ketika suatu saat kreditnya lunas, maka menyerahkan tabungan sebagai bagian dari ”kekayaan” yang tak ingin berkurang hingga suatu waktu tertentu, adalah kewajaran.

Bahkan seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya kepada ketiga kawan tadi, saya sampaikan juga bahwa banyak orang menjadi lebih giat berusaha ketika mereka harus dikondisikan dengan kewajiban-kewajiban dari pihak ketiga, seperti misalnya kewajiban membayar bunga atau cicilan pokok ke bank.

”Trus, apa untungnya cash coll itu, Mas?” cerdas, pertanyaan dari Uda Mail.

“Pertama, munculnya gairah berusaha tadi. Kedua, pada suatu ketika, usahanya maju karena adanya tambahan modal kerja, aset bertambah karena adanya investasi, tapi ’harta’-nya yang berupa simpanan di bank tadi tetap utuh,” jelas saya.

”Ketiga, karena risiko di bank pemberi cash coll adalah nol, maka proses pemberian kreditnya sangat cepat, dan bahkan penggunaannya pun menjadi sangat fleksibel. Bisa digunakan untuk modal kerja dan atau investasi.

Analisanya sangat sederhana. Cukup satu hari kerja. Tak perlu ada tetek bengek laporan keuangan, proyeksi usaha, nota-nota pendukung, survey, dan sebagainya.

Keempat, dimungkinkan pemberian kredit dengan sistem rekening koran, sehingga debitur hanya perlu membayar bunga bulanan. Itu jika cicilan pokok dirasa masih memberatkan.”

”Trus kelima, sebentar ya,” saya memotong kata-kata saya untuk menyeruput jahe bikinan Cak Rifan sambil tersenyum.

Saya tahu teman-teman sedang sangat serius mendengarkan. Makanya saya sengaja melakukan ”break”, hehe.

”Hmm...,” saya menikmati tegukan terakhir jahe di kerongkongan.

”Kelima, ya? Kelima, plafond kreditnya cukup maksimal. Bisa sampai 95 – 97 persen dari nominal simpanannya. Jadi kalau punya deposito 100 juta, Insya Allah bisa dapat kredit 95 sampai 97 juta.”

Ketiga sahabat ber-ritual. Manggut-manggut.

”Ada lagi, Mas?” kejar Bang Sinaga.

”Ada, dong.

Keenam, bunga kreditnya murah, karena biasanya hanya sekitar 2 sampai 3 persen di atas bunga depositonya. O ya, biasanya agunan kas ini memang diwujudkan dalam bentuk deposito. Kalau misalnya bunga deposito adalah 6 persen per tahun, maka bunganya berkisar antara 8 sampai 9  persen per tahun.

Nah, dengan deposito yang tetap menghasilkan 6 persen per tahun tadi kendati menjadi agunan kredit, si peminjam tinggal mencari spread margin 2 sampai 3 persen per tahun bukan, untuk membayar bunga kreditnya?” kata saya dengan nada tanya.

”Murah banget kan, Bang?” kata saya lagi.

Bang Sinaga masih manggut-manggut ketika mengguman, ”Iya juga, ya....”

”Ketujuh, meskipun dipatok dengan jangka waktu tertentu, misal 12  bulan atau lebih, pelunasan bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kewajiban sampai dengan saat itu saja. Walhasil ya tadi. Usaha makin kenceng, investasi bertambah, uang tetep utuh.

Bukan begitu, kawan-kawan?”  

Saya lihat, mereka tak hanya manggut-manggut sekarang. Tubuh mereka pun ikut bergerak –gerak. Usut punya usut, ternyata mereka semua malah menggigil kedinginan!

Halah, ”tiwas” capek-capek dan semangat berteriak... hehe.

Rubrik edukasi perbankan akan hadir setiap edisi, ditulis secara khusus oleh Fajar S Pramono,  praktisi bisnis sekaligus kolumnis & pembicara  mengenai masalah kredit perbankan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari