Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
UKM Penyelamat Krisis Ekonomi Amerika?
Selasa, 01 Mei 2012 10:51 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 Oleh Lusi Efriani, Wartawan WK

Pengantar Redaksi : Lusi Efriani, Wartawan WK yang berkedudukan di Batam berkesempatan mengikuti Experience Learning International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat (AS), selama 21 hari. Catatan perjalanan sebagian telah dimuat pada edisi terdahulu, namun atas permintaan banyak pembaca majalah WK, catatan tersebut dimuat kembali lebih lengkap untuk berbagi pengalaman dengan para pewirausaha Indonesia, khususnya para generasi muda .

Saya terpilih sebagai peserta IVLP untuk mempelajari sektor “Economic Development” . Namun di Amerika Serikat  saya justru mendapatkan banyak bonus ‘berbagai ilmu’, dan pelajaran, serta pengalaman dari berbagai aspek kehidupan di negeri ini.  

Catatan pengalaman ini sengaja saya tuliskan di sini  untuk membangun kesadaran kepada generasi muda untuk mengenal arti pentingnya kemandirian, kewirausahaan, dan kebanggaan sebagai anak bangsa Indonesia. Melalui catatan ini saya ingin menyuarakan semangat-semangat itu.

Satu minggu sebelum keberangkatan saya ke Amerika, saya terbang dari Batam ke Jakarta untuk melakukan beberapa persiapan serta menghadiri beberapa undangan untuk memperkaya wawasan. Saya menghadiri undangan dari teman saya Juniar Mahameru, dalam acara dialog interaktif dengan sebuah bank syariah di Jakarta, serta menyempatkan untuk menghadiri beberapa pameran batik dan pameran makanan tradisional.

Di Jakarta saya juga sempat bertemu dengan anak muda Indonesia yang pernah berkarya di negeri Paman Sam. Ia terlibat secara penuh  dalam tim pembuatan film ‘Transformer and GI Joe’. Saya sempat mendengar sendiri penuturannya tentang kiprah anak muda ini, dan saya bangga atas prestasinya, dan bangga dapat mengibarkan nama Indonesia di negara adi daya.

Hari berikutnya saya berkunjung ke kantor Kementerian Koperasi,  Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berada di Jalan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tujuan saya ke kantor ini, selain ingin memperoleh berbagai informasi tentang UKM di Indonesia, juga meminta katalog produk-produk UKM se–Indonesia yang diterbitkan oleh lembaga ini.Saya berharap dapat memberikan secara langsung katalog-katalog ini kepada calon mitra atau calon pembeli di Amerika  Serikat.

Saya juga mempersiapkan 20 kipas unik berukuran agak besar yang akan saya gunakan untuk cinderamata selama di Amerika Serikat. Saya membawa 5 keping Compact Disc (CD) “ Save The World & Share The Love” yang mempresentasikan kegiatan usaha saya mengolah tempurung kelapa menjadi arang tempurung kelapa dan dalam CD ini juga saya memperlihatkan seluruh kegiatan-kegiatan sosial yang pernah saya lakukan baik untuk skala nasional maupun internasional.

Dalam kesempatan yang baik ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan  untuk mempromosikan potensi Pulau dan Kota Batam. Saya membawa brosur Megawisata Ocarina dan Coastarina, yaitu sebuah Kawasan Industri Terpadu Kabil, dan Kawasan Industri Batamindo. Cukup banyak saya membawa brosur ini karena saya berpikir bahwa kesempatan ini tidak akan datang kedua kali dan saya ingin memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Atas jasa Ketua Usaha Kecil Menengah (UKM) Kreatif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Haida Yusuf, saya bertandang ke Radio 103.4 D FM Jakarta untuk menjadi narasumber talkshow tentang prospek bisnis arang tempurung kelapa. Saya juga berdiskusi secara panjang lebar dengan Isdiyanto, pemimpin redaksi Majalah Wirausaha dan Keuangan agar catatan perjalanan ini dapat dishare untuk pembaca majalah WK.

Pertemuan yang paling menggembirakan selama di Jakarta adalah saya sempat makan siang bersama dengan Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia,  Sofyan Wanandi, dan  Ketua Indonesia Business Association of Shanghai (IBAS), Adi Harsono. Saya ditemani oleh Benny Lau, owner Blue Stell Australia, serta Allen, penggagas ide untuk kerjasama  dalam pemberdayaan UKM Indonesia dan China.

Di waktu yang berbeda, saya juga bertemu dengan Irma Sustika,  penulis buku ‘LIFE for Happiness’. Saya  mengagumi semangatnya sebagai single parent dan memutuskan untuk bekerja di rumah untuk menjaga anak-anaknya. Kagum dan salut atas kiprahnya. Saya sempat membeli buku tersebut untuk bekal selama perjalanan menuju Amerika Serikat karena saya yakin buku ini bisa membunuh rasa jenuh saya selama perjalanan melalui udara yang berjam-jam lamanya.

Satu hari sebelum keberangkatan, saya ke kedutaan Amerika Serikat di Jakarta untuk mengikuti briefing tentang IVLP. Angela C. Gjertson, Assistant Cultural Affairs Attaché, bersama 2 orang stafnya dari Indonesia, Prima dan Shita, menjelaskan panjang lebar tentang detail acara, serta menyiapkan berbagai kebutuhan dan bekal yang diperlukan.

Bekal penting itu antara lain, dokumen administrasi perjalanan, buku panduan, tiket, dan juga tak kalah pentingnya uang saku. Dokumen-dokumen dan administrasi perjalanan adalah bekal paling penting dalam hal bebergian ke Amerika Serikat. Menurut mereka, semua kebutuhan yang saya perlukan telah disiapkan dengan baik, dan berharap tidak mengalami kesulitan berurusan dengan pihak Imigrasi Washington,DC,  karena saya baru pertama kali ke Amerika Serikat.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari